Fisika Berkonteks Kearifan Lokal

 Aplikasi  penggunaan “Sistem Satuan Tradisional Bali”

Aplikasi penggunaan satuan panjang ini seperti dalam pengukuran pekarangan, sempadan,  pengukuran tata letak bangunan tradisional Bali, dan pengukuran komponen-komponen bangunan.

 1)  Pengukuran pekarangan

Dalam pengukuran pekarangan rumah beberapa penetapan dari lontar asta kosali (Bija, 2000, Mayun, 1986) yang mencerminkan keseimbangan atau keharmonisan dari bhuana alit dan bhuana agung, jelasnya manusia sebagai bhuana alit dan alam sebagai bhuana agung. Penetapan ukuran atau “sikut” pekarangan rumah dipakai ukuran “depa”.

 Jenis-jenis Ukuran :

a)      Ukuran Gajah (Hayu) : 15 depa X 14 depa (dari utara ke selatan 15 depa, dari timur ke barat 14 depa)

b)      Ukuran Dwaja (Hayu) : (13 depa X 12 depa).

c)      Ukuran Wireksa (Hayu) : (12 depa X 11 depa)

d)     Ukuran Singa (Hayu) : (9 depa X 8 depa)

 2) Pengukuran Sempadan

       Untuk menentukan garis sempadan antara jalan dan tembok pekarangan digunakan ukuran sadepa, adepa astha, atau adepa asta musti.

Untuk menentukan garis sempadan pekarangan pura atau kahyangan, daerah bebas bangunan digunakan ukuran  :  apanimpug (sejauh jarak lemparan), atau apangambuan (sejauh bau tercium), atau apaneleng (sejauh pandangan yang terbedakan).

No

Konsep-konsep Fisika Dasar

Konteks dengan Kearifan Lokal

Media Statis/Dinamis

2. Gaya, momen gaya, kesetimbangan gaya-gaya, elastisitas Konstruksi bangunan bertiang (sistem “saka”) dengan “canggah wang” dan “sineb” serta “bale-bale” pada bangunan tradisional.

1)      Foto Konstruksi bangunan bertiang (sistem “saka”)

2)      Animasi stil Bali yang digoyang gempa.

3)      Penunjukkan animasi momen gaya.

4)      Penunjukkan animasi gesekan

5)      Gambar Uraian gaya-gaya yang bekerja

    Tiang Penyangga (“adegan” atau “saka”) dilengkapi dengan kuda-kuda (“canggah wang”). Kuda-kuda ini mengikuti arah gerak gempa secara elastis menjaga posisi tiang pada tempatnya agar tetap stabil.Pada dasar “saka” diisi ijuk yang berfungsi sebagai gesekan, sehingga “saka” tidak tergelincir atau slip.
    Alat panen ubi jalar (“Penyumblihan”) menerapkan prinsip Tuas (Pesawat sederhana). Alat ini hanya terbuat dari batang kayu yang panjangnya ± 1 m dan di ujungnya lancip. 1) Foto/video clip
    Alat pikulan (“sanan”), para petani biasanya memikul beban dengan sanan dengan mencari titik keseimbangan dengan menggunakan prinsip momen gaya. 1)      Video clip orang memikul beban2)      Gambar uraian gaya yang bekerja.
    Pembuatan perahu tradisional yang dilengkapi dengan dua bilah bambu pada kiri kanan perahu.

1)      Video clip

2)      Gambar uraian gaya yang bekerja.

3. Konsep gesekan Pemasangan uang kepeng “pis bolong” atau ijuk diantara tiang bangunan dan alasnya (“sendi”)

1)      Video clip

2)      Gambar uraian gaya yang bekerja

4. Titik pusat massa/berat, momen gaya Konstruksi Bangunan bertiang, konstruksi tangga “undag” pada setiap angkul-angkul (entrance)

1)      Gambar angkul-angkul

2)      Gambar uraian gaya-gaya

 

Rai Sujanem-Undiksha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: